KEJANG DEMAM

KEJANG DEMAM

KASUS

Anak O (8 bulan) menderita panas tinggi hingga timbul kejang. Menurut ibu, anak O tidak pernah kejang sebelumnya jika demam. Sejak umur 6 bulan anak O pernah jatuh dari tempat tidur dan kepalanya terbentur lantai.

  1. A. DEFINISI KEJANG DEMAM

Kejang (Konvulsi) di definisikan sebagai gangguan fungsi otak tanpa sengaja paroksimal yang nampak sebagai gangguan atau kehilangan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, kelainan perilaku, gangguan sensoris, atau disfungsi autonom (Beherman dkk edisisi 15,  )

Kejang demam adalah kebangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderitanya (Millichap, 1968) (Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002).

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_2591.html

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. Derajat tinggi suhu yang dianggap cukup untuk diagnosa kejang demam adalah 380C atau lebih (Soetomenggolo, 1989; Lumbantobing, 1995). Kejang terjadi akibat loncatan listrik abnormal dari sekelompok neuron otak yang mendadak dan lebih dari biasanya, yang meluas ke neuron sekitarnya atau dari substansia grasia ke substansia alba yang disebabkan oleh demam dari luar otak (Freeman, 1980). http://doctorology.net/?p=9

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit. http://kedokteran.ums.ac.id/kejang-demam.html

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.

  1. INSIDEN

Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 – 4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki.

  1. KLASIFIKASI KEJANG DEMAM

Menurut Livingstone (1970), membagi kejang demam menjadi dua :

  1. Kejang demam sederhana

Diagnosisnya :

  1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
  2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit
  3. Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 th tidak > 4 kali
  4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
  5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
  6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan
  1. Epilepsi yang diprovokasi demam

Diagnosisnya :

  1. Kejang lama dan bersifat lokal
  2. Umur lebih dari 6 tahun
  3. Frekuensi serangan lebih dari 4 kali / tahun
  4. EEG setelah tidak demam abnormal

Menurut sub bagian syaraf anak FK-UI membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :

  1. Kejang demam kompleks

Diagnosisnya :

  1. Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
  2. Kejang berlangsung lebih dari 15 menit
  3. Kejang bersifat fokal/multipel
  4. Didapatkan kelainan neurologis
  5. EEG abnormal
  6. Frekuensi kejang lebih dari 3 kali / tahun
  7. Temperatur kurang dari 39 derajat celcius
  8. Kejang demam sederhana

Diagnosisnya :

  1. Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
  2. Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat
  3. Kejang bersifat umum (tonik/klonik)
  4. Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
  5. Frekuensi kejang kurang dari 3 kali / tahun
  6. Temperatur lebih dari 39 derajat celcius
  1. Kejang demam berulang

Diagnosisnya :

  1. Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam

(Soetomenggolo, 1995) http://doctorology.net/?p=9

  1. ETIOLOGI

Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut(cairan telinga yang tidak segera dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada otak akan menyebabkan kejang demam), pneumonia(Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak- gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan. Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa, yaitu demam, batuk kering sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, selama 12 ? 136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru), gastroenteritis akut, exantema subitum (Penyakit eksantema virus yang sering menyerang bayi (infants) dan anak-anak (young children). Ditandai dengan demam tinggi yang mendadak dan sakit tenggorokan ringan. Beberapa hari kemudian terdapat suatu faint pinkish rash yng berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.
) salah satu komplikasinya adalah kejang demam, bronchitis, dan infeksi saluran kemih (Goodridge, 1987; Soetomenggolo, 1989). Selain itu juga infeksi diluar susunan syaraf pusat seperti tonsillitis, faringitis, forunkulosis serta pasca imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) dapat menyebabkan kejang demam.

Faktor lain yang mungkin berperan terhadap terjadinya kejang demam adalah :

  1. Produk toksik mikroorganisme terhadap otak (shigellosis, salmonellosis)
  2. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi.
  3. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit.
  4. Gabungan dari faktor-faktor diatas.

http://doctorology.net/?p=9

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:

  1. Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
  2. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  3. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
  4. Riwayat demam yang sering
  5. Kejang pertama adalah complex febrile seizure

Perbedaan kejang demam dengan epilepsi yaitu pada epilepsi, tidak disertai demam. Epilepsi merupakan faktor bawaan yang disebabkan karena gangguan keseimbangan kimiawi sel-sel otak yang mencetuskan muatan listrik berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang yang mempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut. Cetusan bisa di beberapa bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan epilepsi sering terjadi pada saat ia mengalami stres, jiwanya tertekan, sangat capai, atau adakalanya karena terkena sinar lampu yang tajam.

  1. PATOFISIOLOGI

  1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler
  2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya
  3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

Neurotransmitter

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat dilalui oleh ion K, ion Na, dan elektrolit seperti Cl. Konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.

Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron.

Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Perbedaan potensial membran sel neuron disebabkan oleh :

  1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
  2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi, aliran listrik dari sekitarnya.
  3. Perubahan patofisiologis dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan menyebabkan kenaikan metabolisme basal (jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak 10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada anak balita aliran darah ke otak mencapai 65% dari aliran darah ke seluruh tubuh, sedangkan pada orang dewasa aliran darah ke otak hanya 15%. Jadi, pada balita dengan kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran sel neuron tadi, sehingga mengakibatkan terjadinya pelepasan muatan listrik. Besarnya muatan listrik yang terlepas sehingga dapat meluas/menyebar ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter. Akibatnya terjadi kekakuan otot sehingga terjadi kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak. Ada anak yang ambang kejangnya rendah, kejang telah terjadi pada suhu 380C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C.

Basal Metabolic Rate ( BMR ) adalah kebutuhan kalori minimum yang dibutuhkan
seseorang hanya untuk sekedar mempertahankan hidu , dengan asumsi bahwa orag
tersebut dalam keadaan istirahat total , tidak melakukan aktivitas sedikitpun.

Faktor – factor yang mempengaruhi tingkat metabolisme basal seseorang :

  1. Genetik, sebagian orang dilahirkan dengan tingkat metabolisme basal (BMR) tinggi , dan sebagian lagi BMRlebih rendah.
  2. Gender, laki – laki cenderung memiliki massa otot lebih besar daripada perempuan, sehingga BMR laki – laki lebih besar dari pada perempuan.
  3. Usia, BMR cendererung berkurang seiring dengan bertambahnya usia. BMR seseorang dapat turun sekitar 2% per dekade.
  4. Berat tubuh, semakin berat massa tubuh seseorang , BMRnya akan lebih tinggi.
  5. Body surface area atau Luas permukaan tubuh, ini berkaitan dengan tinggi dan berat seseorang. Sehingga orang yang lebih tinggi dan besar cenderung memiliki BMR yang lebih tinggi.
  6. Pola makan, dalam keadaan lapar BMR seseorang bisa turun hingga 30%
  7. Suhu tubuh, setiap kenaikan suhu tubuh 0.5 C, BMR nisa meningkat hingga 7%
  8. Suhu Lingkungan, suhu lingkungan juga berpengaruh pada tingkat BMR seseorang. Ini berkaitan dengan upaya penstabilan suhu tubuh. Semakin rendah suhu lingkungan, BMR akan cenderung lebih tinggi.
  9. Hormon, hormon yang mempengaruhi tingkat BMR adalah hormon tiroksin. Hormon tiroksin sebagai regulator BMR, yang mengatur kecepatan metabolisme tubuh. Semakin banyak homon tiroksin yang disekresikan, maka akan semakin tinggi BMRnya.

Menghitung BMR

Dalam penghitungan BMR, ada beberapa metode yang bisa digunakan , namun yang akan di bahas disini adalah The Harris-Benedict Formula yang menggunakan usia, tinggi, dan beratbadan dalam penghitungan BMR. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut ;

Men: BMR = 66 + (13.7 X weight in kg) + (5 X hight in cm) – (6.8 X age in years)

Women: BMR = 655 + (9.6 X weight in kg) + (1.8 X hight in cm) – (4.7 X age in years)

Rumus di atas hanya sebatas menghitung BMR, sementara untuk menghitung total daily energy expenditure(TDEE), dikenal adanya Activity Multiplier, yaitu bilangan – bilangan pengali yang digunakan untuk mencari total energi yang dihabiskan dalam seharibergantung pada tingkat aktivitas.

Activity Multiplier
Sedentary = BMR X 1.2 (ex. Deskjob)
Lightly active = BMR X 1.375 (light exercise/sports 1-3 days/wk)
Mod. Active= BMR X 1.55 (moderate exercise/sports 3-5 days/wk)
Very active = BMR X 1.725 (hard exercise/sports 6-7 days/wk)
Extr. active = BMR X 1.9 (hard daily exercise/sports & physical job or 2X day training, i.e marathon.).

Contoh Penghitungan :

Seorang wanit, 30 tahun,memiliki tinggi 5′ 6 “(167.6 cm)dan berat 120 lbs. (54.5 kilos) , maka :
BMR = 655 + 523 + 302 – 141 = 1339 calories/day

BMR 1339 kalori per hari, level aktivitasnya moderately active (olah raga
3-4 kali per minggu), maka :
activity multipliernya 1.55
TDEE = 1.55 X 1339 = 2075 calories/day

http://creamy-cheese.blog.friendster.com/2008/11/basal-metabolic-rate/ 5 nov 2008

  1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  1. Pemeriksaan laboratorium

Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi. Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu:

  1. Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.
  2. Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan analisis gas darah.
  3. Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal
  4. Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia
  5. Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 % diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis.
  6. Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang pasti yaitu mencakup :

1)      Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic

2)      Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella, citomegalovirus dan virus herpes.

3)      Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku

4)       USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, dan vertikular

5)      Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi dan kelainan bawaan otak

6)      Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif dengan ubun – ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar

  1. Pemeriksaan penunjang (fisik)

Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik, pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :

  1. Bisa dilihat dari manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.
  2. Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.
  3. Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
  4. Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.
  5. Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok – kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas.
  6. Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
  7. g. Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.
  1. DIAGNOSA BANDING

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan apakah penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat (otak). Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak, dan lain-lain.oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak.

Baru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhan atau epilepsi yang dprovokasi oleh demam.

Tabel Diagnosa Banding

No

Kriteri Banding

Kejang Demam

Epilepsi

Meningitis Ensefalitis

1. Demam Pencetusnya demam Tidak berkaitan dengan demam Salah satu gejalanya demam
2. Kelainan Otak

(-)

(+)

(+)

3. Kejang berulang

(-)

(+)

(+)

4. Penurunan kesadaran

(-)

(-)

(+)

Ket (-): tidak ada

  1. PROGNOSIS
  1. Kematian
    Dengan penanganan kejang yang cepat dan tepat, prognosa biasanya baik, tidak sampai terjadi kematian. Dalam penelitian ditemukan angka kematian KDS 0,46 % s/d 0,74 %.
  2. Terulangnya Kejang
    Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih 25 s/d 50 % pada 6 bulan pertama dari serangan pertama.
  3. Epilepsi
    Angka kejadian Epilepsi ditemukan 2,9 % dari KDS dan 97 % dari Epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Resiko menjadi Epilepsi yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita KDS tergantung kepada faktor :
    a.    riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
    b.    kelainan dalam perkembangan atau kelainan sebelum anak menderita KDS
    c.     kejang berlangsung lama atau kejang fokal.
    Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor di atas, maka kemungkinan mengalami serangan kejang tanpa demam adalah 13 %, dibanding bila hanya didapat satu atau tidak sama sekali faktor di atas.
  4. Hemiparesis
    Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun kejang fokal. Kejang fokal yang terjadi sesuai dengan kelumpuhannya. Mula-mula kelumpuhan bersifat flacid, sesudah 2 minggu timbul keadaan spastisitas. Diperkirakan + 0,2 % KDS mengalami hemiparese sesudah kejang lama.
  5. Retardasi Mental
    Ditemuan dari 431 penderita dengan KDS tidak mengalami kelainan IQ, sedang kejang demam pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan perkembangan atau kelainan neurologik ditemukan IQ yang lebih rendah. Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam, kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 5x lebih besar.
  1. MANIFESTASI KLINIK

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Namun anak akan terbangun dan sadar kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.

Gejala yang mungkin timbul saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan. http://kedokteran.ums.ac.id/kejang-demam.html

Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti :

  1. Anak hilang kesadaran
  2. Tangan dan kaki kaku atau tersentak-sentak
  3. Sulit bernapas
  4. Busa di mulut
  5. Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan
  6. Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.

http://www.wartamedika.com/2008/08/kejang-demam-pada-anak.html

Livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu:

  1. Kejang demam sederhana (simple febrile confulsion)
  2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam (epilepsy triggered of by fever)

Kriteria livingston tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai sebuah pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam sederhana yaitu:

  1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
  2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
  3. Kejang bersifat umum
  4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
  5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang demam normal
  6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukan kelainan
  7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston di atas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam, kejang ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja.

  1. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN

Dalam penanggulangan kejang demam ada 6 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :

  1. Mengatasi kejang secepat mungkin
  2. Pengobatan penunjang
  3. Memberikan pengobatan rumat
  4. Mencari dan mengobati penyebab
  5. Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas
  6. Pengobatan akut
  7. Mengatasi kejang secepat mungkin

Sebagai orang tua jika mengetahui seorang kejang demam, tindakan yang perlu kita lakukan secepat mungkin adalah semua pakaian yang ketat dibuka. Kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung. Penting sekali mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin. Dan bisa juga diberikan sesuatu benda yang bisa digigit seperti kain, sendok balut kain yang berguna mencegah tergigitnya lidah atau tertutupnya jalan nafas. Bila suhu penderita meninggi, dapat dilakukan kompres dengan es/alkohol atau dapat juga diberi obat penurun panas/antipiretik

Berikut adalah tabel dosis diazepam yang diberikan :

Terapi awal dengan diazepam

Usia

Dosis IV (infus)
(0.2mg/kg)

Dosis per rektal
(0.5mg/kg)

< 1 tahun

1–2 mg

2.5–5 mg

1–5 tahun

3 mg

7.5 mg

5–10 tahun

5 mg

10 mg

> 10 years

5–10 mg

10–15 mg

Jika kejang masih berlanjut :

  1. Pemberian diazepam 0,2 mg/kg per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus, 0,5 mg/kg per rektal
  2. Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :

  1. Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kg per infus dalam 30 menit atau fenitoin 15-20 mg/kg per infus dalam 30 menit.
  2. Pemberian fenitoin hendaknya disertai dengan monitor EKG (rekam jantung).

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan.

  1. Pengobatan penunjang

Pengobatan penunjang dapat dilakukan di rumah, tanda vital seperti suhu, tekanan darah, pernafasan dan denyut jantung diawasi secara ketat. Bila suhu penderita tinggi dilakukan dengan kompres es atau alkohol. Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara per rectal, disamping cara pemberian yang mudah, sederhana dan efektif telah dibuktikan keampuhannya (Lumbantobing, SM, 1995). Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau tenaga lain yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan, yaitu berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg dan berat badan lebih dari 10 kg rata-rata pemakaiannya 0,4-0,6 mg/KgBB. Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mg dalam rectiol. Bila kejang tidak berhenti dengan dosis pertama, dapat diberikan lagi setelah 15 menit dengan dosis yang sama.

Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan dosis 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Golongan glukokortikoid seperti deksametason diberikan 0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.

  1. Pengobatan rumat

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara mengirim penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:

  1. Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam sederhana diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada anak yang bila menderita demam lagi. Antikonvulsan yang diberikan ialah fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari yang mempunyai efek samping paling sedikit dibandingkan dengan obat antikonvulsan lainnya.

Obat yang kini ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik diberikan secara rectal maupun oral pada waktu anak mulai terasa panas.

Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4tahun.

  1. Profilaksis jangka panjang

Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.

Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:

1).           Fenobarbital

Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur.

2).           Sodium valproat / asam valproat

Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat ini harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan hepar, pancreatitis.

3).           Fenitoin

Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang memuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.

  1. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut.

Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis.

Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

  1. Mencegah Terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas

Dalam hal ini tindakan yang perlu ialah mencari penyebab kejang demam tersebut. Misalnya pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali dapat menimbulkan panas pada anak sebaiknya diberi antikonvulsan atau menjaga anak agar tidak sampai kelelahan, karena hal tersebut dapat terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut.

Kambuhnya kejang demam perlu dicegah karena serangan kejang merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga. Bila kejang berlangsung lama dapat mengakibatkan kerusakan otak yang menetap (cacat).

Ada 3 upaya yang dapat dilakukan :

  1. Profilaksis intermitten
  2. Profilaksis terus menerus dengan obat antikonvulsan tiap hari
  3. Mengatasi segera jika terjadi serangan kejang
  4. Pengobatan Akut

Dalam pengobatan akut ada 4 prinsip, yaitu :

  1. Segera menghilangkan kejang
  2. Turunkan panas
  3. Pengobatan terhadap panas
  4. Suportif

Diazepam diberikan dalam dosis 0,2-0,5 mg/kgBB secara IV perlahan-lahan selama 5 menit.

Bersamaan dengan mengatasi kejang dilakukan:

  1. Bebaskan jalan nafas, pakaian penderita dilonggarkan kalau perlu dilepaskan
  2. Tidurkan penderita pada posisi terlentang, hindari dari trauma. Cegah trauma pada bibir dan lidah dengan pemberian spatel lidah atau sapu tangan diantara gigi
  3. Pemberian oksigen untuk mencegah kerusakan otak karena hipoksia
  4. Segera turunkan suhu badan dengan pemberian antipiretika (asetaminofen/parasetamol) atau dapat diberikan kompres es
  5. Cari penyebab kenaikan suhu badan dan berikan antibiotic yang sesuai
  6. Apabila kejang berlangsung lebih dari 30 menit dapat diberikan kortikosteroid untuk mencegah oedem otak dengan menggunakan cortisone 20-30 mg/kgBB atau dexametason 0,5-0,6 mg/kgBB

Bagan Penatalaksanaan

http://doctorology.net/?p=9

  1. TUMBANG ANAK
  1. Fisik
    1. Ubun-ubun anterior tertutup.
    2. Physiologis dapat mengontrol spinkter
  2. Motorik kasar
    1. Berlari dengan tidak mantap
    2. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan
    3. Menarik dan mendorong mainan
    4. Melompat ditempat dengan kedua kaki
    5. Dapat duduk sendiri ditempat duduk
    6. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh
  3. Motorik halus
    1. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan
    2. Melepaskan dan meraih dengan baik
    3. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu
    4. Menggambar dengan membuat tiruan
  4. Vokal atau suara
    1. Mengatakan 10 kata atau lebih
    2. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh
  5. Sosialisasi atau kognitif
    1. Meniru
    2. Menggunakan sendok dengan baik
    3. Menggunakan sarung tangan
    4. Watak pemarah mungkin lebih jelas
    5. Mulai sadar dengan barang miliknya

http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_2591.html

  1. DAMPAK HOSPITALISASI

Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.

Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :

  1. Rasa takut

1)      Memandang penyakit dan hospitalisasi

2)      Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal

3)      Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit

4)      Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan

5)      Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang.

  1. Ansietas

1)      Cemas tentang kejadian yang tidak dikenal

2)      Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)

3)      Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat

4)      Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit

5)      Tidak berdaya

6)      Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan

7)      Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi     pengobatan atau perawatan

8)      Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol

9)      Protes dan Ansietas karena restrain

  1. Gangguan citra diri

1)      Sedih dengan perubahan citra diri

2)      Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)

3)      Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut

  1. ASUHAN KEPERAWATAN
  1. 1. Pengkajian
    1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot. Gerakan involunter
    2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan
    3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan, peka rangsangan.
    4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter
    5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi
    6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra
    7. g. Riwayat jatuh / trauma

  1. 2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1)      Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.

2)      Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular

3)      Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

4)      Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

5)      Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

  1. 3. Intervensi

Diagnosa 1

Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot

Tujuan

Cidera/trauma tidak terjadi

Kriteria hasil

Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

1.      Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang.

2.      Observasi keadaan umum, sebelum, selama, dan sesudah kejang.

3.      Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali terjadi.

4.      Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang.

5.      Lindungi klien dari trauma atau kejang.

6.      Berikan kenyamanan bagi klien.

Kolaborasi

7.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan

1.      Demam, berbagai obat dan stimulasi lain (spt kurang tidur, lampu yang terlalu terang) dapat meningkatkan aktivitas otak, yang selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya kejang.

2.      membedakan tanda dan gejala kejang sebelum, selama, dan sesudah kejang untuk mengetahui seberapa besar tingkat kerusakan pada klien

3.      membantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena

4.      mencatat keadaan posiktal dan waktu penyembuhan pada keadaan normal

5.      mencegah terjadinya cedera pasca kejang

6.      dengan adanya rasa nyaman klien akan merasa lebih tenang dan dengan adanya rasa nyaman ini akan membantu dalam proses penyembuhan.

7.      untuk mencegah terjadinya kejang berulang

Evaluasi

Trauma tidak terjadi

Diagnosa 2

Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular

Tujuan

Inefektifitasnya bersihan jalan napas

Kriteria hasil

Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR dalam batas normal

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

  1. Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler.

2.       Lakukan penghisapan lendir,

3.      hindari hiperekstensi leher

Kolaborasi

4.      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi  O2

1..      tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien, posisi fowler/semifowler dapat meningkatkan ekspansi dada maksimal, membuat mudah bernapas sehingga meningkatkan kenyamanan.

2.      mencegah terjadinya penumpukan lendir, dan mempermudah jalan napas.

3.      dapat menghambat jalan napas

4.      pemberian terapi bertujuan untuk mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.

Evaluasi

Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

Diagnosa 3

Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

Tujuan

Aktivitas kejang tidak berulang

Kriteria hasil

Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal

INTERVENSI

RASIONAL

1.      Kaji factor pencetus kejang.

2.      Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.

3.      Observasi tanda-tanda vital.

4.      Lindungi anak dari trauma.

5.      Berikan kompres dingin pada daerah dahi dan ketiak.

1.      mencegah terjadinya peningkatan aktifitas otak yang selanjutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang

2.      keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan pasien anak dan mempererat hubungan psikologis anak dengan orang tua .

3.      tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

4.      mencegah terjadinya cedera pasca kejang

5.      kompres dingin dapat atau akan menurunkan suhu tubuh

Evaluasi

Aktivitas kejang tidak berulang

Diagnosa  4

Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

Tujuan

Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

Kriteria hasil

Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi

INTERVENSI

RASIONAL

1.      Kaji tingkat mobilisasi klien.

2.      Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien.

3.      Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan.

4.      Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien.

5.      Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.

1.      untuk mengetahui seberapa besar tingkat kerusakan.

2.      untuk mengetahui seberapa jauh kita melakukan intervensi

3.      untuk memfasilitasi perkembangan optimum

4.      untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi tubuh

5.      keterlibatan keluarga dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit dan dapat mempererat hubungan psikologis keluarga dan anak

Evaluasi

Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

Diagnosa  5

Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil

Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.

INTERVENSI

RASIONAL

1.      Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.

2.      Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien.

3.       Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes.

4.       Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti.

5.      Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien.

1.      memberikan kemudahan dalam menjelaskan tentang proses penyakit

2.      untuk mengetahui sampai mana keluarga mengetahui penyebab dan tentang penyakit yang dialami oleh kllien

3.      untuk menurunkan tingkat kecemasan keluarga

4.      memberikan kemudahan dan menambah pengetahuan keluarga tentang proses penyakit

5.      keterlibatan keluarga dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit dan dapat mempercepat hubungan psikologis keluarga dengan anak(klien)

Evaluasi

Pengetahuan keluarga meningkat

REPERENSI

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002, Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, jakarta; Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

Behrman, Kliegman, arvin, Ilmu Kesehatan Anak Nelson vol.3 ed.15, jakarta; EGC

http://keluargasehat.wordpress.com/2008/04/16/kupas-tuntas-stuip/

http://kedokteran.ums.ac.id/kejang-demam.html

http://www.wartamedika.com/2008/08/kejang-demam-pada-anak.html

http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_2591.html

http://doctorology.net/?p=9

http://creamy-cheese.blog.friendster.com/2008/11/basal-metabolic-rate/ 5 nov 2008

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.