DISFUNGSI EREKSI

DISFUNGSI EREKSI

DEFINISI

Disfungsi Ereksi atau erectile dysfunction adalah disfungsi sexual (sexual dysfunction) yang ditandai dengan ketidak mampuan atau mempertahankan ereksi pada pria untuk mencapai kebutuhan seksual dirinya sendiri maupun pasangannya.

http://cakmoki86.wordpress.com/2007/04/10/disfungsi-ereksi-pangeran-kecil-malas-berdiri/

Gangguan disfungsi ereksi (DE) adalah salah satu jenis gangguan seksual pria, disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi untuk melakukan aktivitas seksual dengan baik. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan impotensi

G E J A L A
Pada disfungsi ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

  • Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang ( paling tidak selama 3 bulan )
  • Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten
  • Ereksi hanya sesaat ( dalam referensi tidak disebutkan lamanya )

FAKTOR PENYEBAB
Penyebab organik (kelainan organ), yakni:

  • Berkurangnya aliran darah ke penis, misalnya: penyakit vaskuler, gangguan hormonal, pasca operasi prostat, dan lain-lain.
  • Kerusakan saraf yang disebabkan penyakit lain, misalnya: diabetes.

Faktor psikologis (ICD.10: F 52.2), antara lain: stress, kecemasan, depresi, rasa letih, perselisihan, sakit hati, rasa bersalah, paranoid dan sejenisnya

PATOFISIOLOGI

Ereksi terjadi melalui 2 mekanisme.

Pertama, adalah refleks ereksi oleh sentuhan pada penis (ujung, batang dan sekitarnya).
Kedua, ereksi psikogenik karena rangsangan erotis.
Keduanya menstimulir sekresi nitric oxide yang memicu relaksasi otot polos batang penis (corpora cavernosa), sehingga aliran darah ke area tersebut meningkat dan terjadilah ereksi. Disamping itu, produksi testosteron (dari testis) yang memadai dan fungsi hipofise (pituitary gland) yang bagus, diperlukan untuk ereksi.

Disfungsi ereksi berhubungan erat dengan faktor: hormonal, sistem saraf, aliran darah dan psikologis. Gangguan pada salah satu atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi.

Pada dasarnya mekanisme ereksi terjadi melalui proses neurologis dan hemodinamik yang dikontrol oleh faktor psikologis. Sehingga penyebab disfungsi ereksi dibagi menjadi faktor psikologis dan faktor organik yang dapat disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah (vaskulogenik), persarafan (neurogenik) dan hormon (endokrinologik) (Carbone, et al 2004). Rangsangan seksual akan diolah pada susunan saraf pusat di beberapa tempat terutama di jaras supra spinal yaitu area preoptik medial (MPOA) dan nukleus paraventrikularis (PVN) dihipotalamus dan hippokampus yang merupakan pusat integrasi fungsi seksual dan ereksi.  Penelitian pada binatang dengan melakukan elektro stimulasi pada area tersebut akan menimbulkan terjadinya ereksi, sebaliknya lesi pada daerah itu seperti stroke, ensefalitis, epilepsi lobus temporal dan Parkinson akan  menurunkan frekuensi kopulasi dan disfungsi ereksi.(Sachs & Meisel, 1988; Marson, et al, 1993). Berbagai macam neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin ditemukan pada hipotalamus diduga aktivasi reseptor kedua neurotransmiter akan menyebabkan terjadinya ereksi, sedangkan aktivasi reseptor serotonin ( 5-hydroxytryptamine) akan menghambat terjadinya ereksi (Foreman & Wernicke, 1990). Penyuntikan apomorfin dengan dosis 5ng pada PVN pada tikus jantan akan menyebabkan ereksi tanpa adanya tikus betina(Melis, et al 1987). Efek pemberian apomorfin akan meningkatkan produksi Oksida Nitrat (NO) sebagai neurotranmiter penting terjadinya ereksi terutama pada PVN(Melis, et al 1996). Sebaliknya lesi pada PVN sangat menurunkan kemampuan ereksi pada pemberian  apomorfin. (Argiolas, et al 1987) Dari penelitian tersebut diduga kuat bahwa aktivasi reseptor dopaminergik di PVN berperanan pada terjadinya ereksi yang di induksi dengan apomorfin. (Allard & Giuliano, 2004).

Rangsangan dari susunan saraf pusat akan dilanjutkan pada tingkat medula spinalis yang mempunyai dua pusat persarafan ereksi, sistem persarafan parasimpatis yang merupakan pusat rangsangan  terjadinya ereksi (erektogenik) terletak pada segmen sakrum (S2 – S4) pada manusia nukleus parasimpatis terutama terdapat di saraf preganglion parasimpatis pada columna intermedio lateral medula spinalis sakrum S3. Akson parasimpatis akan melalui nervus pelvikus menuju pleksus pelvis dan bersinap dengan persarafan post ganglion dimana akson menujun ke nervus cavernosus.(Nadelhaft, et al 1983; Allard & Giuliano, 2004) Sistem persarafan simpatis yang terutama menghambat ereksi (erektolitik) pusatnya terletak pada kolumna intermedio lateral dan komisura dorsal abu abu pada segmen torakolumbal (T11 – L2) medula spinalis. (Nadelhaft, et al 1987, Allard & Giuliano, 2004)

Penis di persarafi oleh sistem persarafan otonom (simpatis dan parasimpatis) pada daerah pelvis kedua saraf bersatu membentuk nervus kavernosus yang masuk ke dalam korpus kavernosus, korpus spongiosum dan gland penis untuk pengaturan aliran darah selama ereksi dan detumesen. Sistem persarafan somatis yaitu nervus pundendus berperan sebagai sensorik penis dan kontraksi dan relaksasi otot otot lurik bulbokavernosus dan isciokavernosus (Lue, 2000).

  1. Sistem persarafan tersebut bertanggung jawab terhadap terjadinya tiga macan tipe ereksi :  psikogenik, refleksogenik dan nokturna. Ereksi psikogenik yang terjadi karena rangsangan pendengaran, penciuman dan fantasi yang diolah pada susunan saraf pusat akan dilanjutkan pada pusat ereksi di medula spinalis (T11-L2 dan S2-S4) sehingga terjadi ereksi. Ereksi refleksogenik yang terjadi karena rangsangan perabaan pada organ genital dan sekitarnya, akan menuju pusat ereksi di medula spinalis yang akan menimbulkan persepsi sensoris yang akan mengaktifkan sistem saraf otonom untuk menyampaikan rangsangan pada nervus kavernosus sehingga terjadi ereksi. Tipe ereksi ini akan tetap terjadi pada pasien dengan cedera medula spinalis diatas segmen sakrum 2. Ereksi nokturna umumnya terjadi selama tidur rapid eye movement (REM). Selama tidur REM akan mengaktifkan sistem saraf kolinergik yang terletak pada tegmentum pontin lateral, sehingga terjadi peningkatan ketegangan penis.(Lue, 2002)

PATOFLOW

PENGOBATAN

Jenis dan cara pengobatan bergantung kepada penyebab primernya. Selain itu ditujukan pula untuk memperbaiki fungsi ereksi. Tak jarang kasus disfungsi ereksi tidak memerlukan obat, terutama pada kasus disfungsi ereksi karena faktor psikologis. Selain itu, peran pasangan sangat penting untuk membantu pemulihan disfungsi ereksi.

Obat-obat yang sering dipakai, antara lain: Phosphodiesterase inhibitor (PDE), misalnya: sildenafil. Obat ini tidak boleh digunakan lebih satu kali dalam sehari. Digunakan sebagai pilihan pertama tanpa memandang penyebabnya, karena efektif bagi sebagian besar penderita disfungsi ereksi.

Cara lain adalah:

  • Vacuum constriction. (yang ini rumit deh), Pembedahan, dilakukan untuk memperbaiki pembuluh darah penis (revaskularisasi).
  • Penis tiruan (protesis penis), merupakan pilihan terakhir jika semua upaya tidak memberikan hasil yang memadai.
  • Dan lain-lain

Obat-obat di atas digunakan hanya atas petunjuk dokter, mengingat efek samping yang tidak diinginkan.

Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari adanya perubahan ciri seksual pria, misalnya payudara, testis dan ukuran penis, serta perubahan pada rambut, suara maupun kulit.

Untuk mengetahui adanya kelainan pada arteri di panggul dan selangkangan (yang memasok darah ke penis), dilakukan pengukuran tekanan darah di tungkai.

Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan:

  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Pemeriksaan gula darah untuk diabetes
  • Pemeriksaan kadar TSH
  • USG penis.

Jenis pengobatan disfungsi ereksi, diantaranya :

  1. Psikoterapi
    Untuk mengatasi disfungsi ereksi yang disebabkan gangguan psikologis . Diperlukan keterlibatan patner dalam membantu mempercepat kesembuhan.
  2. Terapi obat

Berbagai macam obat dari yang dapat diminum secara oral sampai dengan penyuntikan pada saat ini telah tersedia.

    • Terapi obat oral

Diawali pada bulan Maret 1998, FDA (Food and Drug Administration) Amerika memberikan izin dipasarkannya obat antidisfungsi ereksi oral pertama, yaitu golongan PDE5. Kemudian pilihan obat oral anti disfungsi ereksi semakin beragam. FDA mengizinkan beredarnya obat anti disfungsi ereksi kedua.

Mekanisme kerja obat golongan ini, yaitu dengan cara membantu efek nitrat oksida (NO), yaitu suatu zat kimiawi tubuh yang menyebabkan relaksasi otot polos di penis, sehingga darah dengan mudah dapat mengisi ruangan dalam penis pada saat adanya rangsangan seksual sehingga ereksi dapat terjadi. Obat oral anti disfungsi ereksi dari golongan ini juga sama-sama dilarang penggunaannya bersamaan dengan obat golongan nitrat,

Pengobatan oral lainnya biasanya menggunakan bahan dasar herbal, seperti yohimbine, dll dimana efektifitas dan keamanannya belum bisa dipastikan secara ilmiah sampai saat ini.

    • Terapi bukan obat oral


Selain pengobatan oral, tersedia juga terapi lain, di antaranya : Obat yang digunakan dengan cara menyuntikkan obat langsung di penis. Gabungan obat ini akan menyebabkan pembuluh darah penis bertambah lebar, hanya saja efek sampingnya seperti ereksi terus menerus (priapismus) dan bekas luka suntikan yang menetap dapat terjadi.
Obat lain adalah yang dimasukkan langsung ke dalam uretra (saluran keluarnya air seni dan sperma pada pria). Efektifitas terapi disfungsi ereksi dengan cara ini cukup baik, namum efek sampingnya sangat mengganggu pasien dan pasangannya, seperti rasa sakit pada penis, buah zakar; rasa hangat bahkan panas pada uretra, kemerahan pada  penis.

    • Terapi bukan obat


Pilihan cara lainnya adalah dengan Vacuum Devices (alat vakum/jerat penis) Mekanisme kerja alat ini adalah dengan menciptakan tekanan negative dalam tabung vakum sehingga memaksa darah masuk dalam ruangan dalam penis dan penis akan membesar.

  1. Pembedahan
    Merupakan pilihan terakhir terapi disfungsi ereksi

Ada beberapa cara pembedahan ini, yaitu : menanam alat  yang menyebabkan penis ereksi, memperbaiki pembuluh darah arteri sehingga meningkatkan aliran darah ke penis, atau menutup pembuluh darah vena sehingga darah yang sudah masuk dalam penis tidak keluar lagi.

Memilih pengobatan mana yang paling sesuai dengan kondisi tubuh Anda tergantung pada beberapa faktor. Konsultasikan masalah disfungsi ereksi yang Anda alami pada Dokter Anda dan bersama memutuskan pengobatan mana yang sesuai.

ASUHAN KEPERAWATAN  DISFUNGSI EREKSI

PENGKAJIAN

  1. Perubahan kadar hormone
  2. Perubahan pola reponsif seksual
  3. Nyeri vagina
  4. Tidak adanya kontraksi uterus selama orgasme

DIAGNOSE KEPERAWATAN:

  1. Disfungsi seksual, resiko tinggai terhadap Perubahan struktur tubuh, fungsi, contoh memendeknya kanal vaginal; perubahan kadar hormone, penurunan libido.

KRITERIA HASIL: Menyatakan pemahaman perubahan anatomi/fungsi seksual.

Mendiskusikan masalah tentang gambaran diri, peran seksual, hasrat seksual pasangan dengan orang terdekat.

Mengidentifikasi kepuasan/ praktik seksual yang diterima dan beberapa alternative cara mengekspresikan seksual.

TINDAKAN/INTERVENSI

Mandiri

  1. Mendengarkan pernyataan pasien/orang terdekat
  2. Kaji informasi pasien/orang terdekat tentang anatomi/ fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan.
  3. Identifikasi factor budaya/nilai dan adanya konflik
  4. Bantu pasien untuk menyadari/menerima tahap berduka.
  5. Dorong pasien untuk berbagi pikiran/masalah dengan teman.
  6. Solusi pemecahan masalah terhadap masalah potensial; contoh menunda koitus seksual saat kelelahan, melanjutkannya dengan ekspresi alternative, posisi yang menghindari tekanan pada insisi abdomen, menggunakan minyak vagina.
  7. Diskusikan sensasi/ketidaknyamanan fisik, perubahan pada respons seperti individu biasanya.

Kolaborasi

  1. Rujuk ke konselor/ahli seksual sesuai kebutuhan.

PENGKAJIAN

  1. Klien menarik diri
  2. Klien depresi
  3. Klien takut akan penolakan atau reaksi orang terdekat

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Gangguan Harga Diri b.d efek hubungan seksual

INTERVENSI

Mandiri

  1. Berikan waktu untuk mendengar masalah dan ketakutan pasien dan orang terdekat
  2. Kaji stress emosi dan pasien
  3. Berikan informasi akurat
  4. Identifikasi perilaku koping  positif sebelumnya
  5. Berikan lingkungan terbuka pada pasien untuk mendiskusikan masalah seksualitas
  6. Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negative

Kolaborasi

  1. Rujuk ke konseling professional sesuai kebutuhan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s