HERNIA INGUINALIS PADA ANAK

Ahmad Zakariya PSIK-UIN Jakarta

HERNIA INGUINALIS PADA ANAK

KASUS PEMICU

Anak I (3,5 tahun) menderita hernia inguinalis, sering menangis karena sakit dan direncanakan akan operasi segera.

DEFINISI

Hernia, atau sering kita kenal dengan istilah “turun bero”, merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Hernia adalah perpindahan isi suatu ruangan ke ruangan lain melewati dinding pemisah. “Biasanya dari ruangan yang tekanannya tinggi ke ruangan yang tekanannya rendah.” (Dr.dr.H. Muljono Wirjodiarjo, SpA(K)) Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus atau kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (Tambayong, 2000). Hernia inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah lubang pada dinding perut kedalam kanalis inguinalis. Kanalis inguinalis adalah saluran yang berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat turunnya testis dari perut kedalam skrotum sesaat sebelum bayi dilahirkan.

KLASIFIKASI

Klasifikasi hernia inguinalis, adalah: 1. Hernia Inguinalis Lateralis Disebut juga Hernia Inguinalis Indirek, karena menonjol melalui annulus dan kanalis inguinalis. 2. Hernia Inguinalis Medialis Disebut juga Hernia Inguinalis direk, karena menonol langsung melalui trigonum Hesselbach, tanpa melalui kanalis inguinalis.

ETIOLOGI

1. Kongenital Muncul ketika bayi dalam kandungan dan umumnya tidak diketahui penyebabnya. Secara umum bayi laki-laki lebih sering mengalami hernia dibandingkan perempuan karena proses penurunan testis/buah pelir yang merupakan organ reproduksinya berlangsung lebih kompleks. Hernia pun lebih sering terjadi pada bayi prematur, sebab pada saat kelahirannya proses penurunan testis dan pembentukan ligamen belum sempurna. 2. Didapat Ditemukan adanya factor kausal/predisposisi yang berperan untuk timbulnya hernia: – Prosesus vaginali yang tetap terbuka – Peninggian tekanan intra abdomen: o Pekerjaan mengangkat barang-barang berat o Batuk kronik – Elemahan otot dinding perut: o Usia tua o Sering melahirkan Hernia inguinalis atau hernia pada lipatan paha umumnya diderita bayi/anak laki-laki (dominan pada bayi prematur). Sebab saluran tempat turunnya buah pelir dari rongga perut ke kantung buah pelir tetap terbuka saat lahir. Ukuran lubang cukup besar, sehingga sebagian usus bayi bisa turun ‘mengikuti’ buah pelir membentuk benjolan (kurang-lebih sebesar ibu jari orang dewasa). Kamaluan penderita hernia tipe ini membesar.

PATOFISIOLOGI MANIFESTASI KLINIS

– Benjolan di lipat paha yang timbu hilang. Muncul saat penderita beraktifitas berlebih, batuk, bersin, mengedan dan menghilang saat penderita berbaring – Nyeri timbul bila strangulasi. Gejala khususnya muncul berdasarkan berat-ringan hernia: 1. Reponible: Benjolan di daerah lipat paha atau umbilikus tampak keluar masuk (kadang-kadang terlihat menonjol, kadang-kadang tidak). Benjolan ini membedakan hernia dari tumor yang umumnya menetap. Ini adalah tanda yang paling sederhana dan ringan yang bisa dilihat dari hernia eksternal. Bisa dilihat secara kasat mata dan diraba, bagian lipat paha dan umbilikus akan terasa besar sebelah. Sedangkan pada bayi wanita, seringkali ditemukan bahwa labianya besar sebelah. Labia adalah bagian terluar dari alat kelamin perempuan. 2. Irreponible: benjolan yang ada sudah menetap, baik di lipat paha maupun di daerah pusat. Pada hernia inguinalis misalnya, air atau usus atau omentum (penggantungan usus) masuk ke dalam rongga yang terbuka kemudian terjepit dan tidak bisa keluar lagi. Di fase ini, meskipun benjolan sudah lebih menetap tapi belum ada tanda-tanda perubahan klinis pada anak. 3. Incarcerata, benjolan sudah semakin menetap karena sudah terjadi sumbatan pada saluran makanan sudah terjadi di bagian tersebut. Tak hanya benjolan, keadaan klinis bayi pun mulai berubah dengan munculnya mual, muntah, perut kembung, tidak bisa buang air besar, dan tidak mau makan. 4. Strangulata, ini adalah tingkatan hernia yang paling parah karena pembuluh darah sudah terjepit. Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerata, gejala lain juga muncul, seperti demam dan dehidrasi. Bila terus didiamkan lama-lama pembuluh darah di daerah tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan racun yang kemudian akan menyebar ke pembuluh darah. Sebagai akibatnya, akan terjadi sepsis yaitu beredarnya kuman dan toxin di dalam darah yang dapat mengancam nyawa si bayi. Sangat mungkin bayi tidak akan bisa tenang karena merasakan nyeri yang luar biasa.

PEMERIKSAAN FISIK

Daerah inguinalis pertama-tama diperiksa dengan inspeksi , sering benjolan muncul dalam lipat paha dan terlihat cukup jelas. Kemudian jari telunjuk diletakkan disisi lateral kulit skrotum dan dimasukkan sepanjang funikulus spermatikus sampai ujung jari tengah mencapai annulus inguinalis profundus. Suatu kantong yang diperjelas dengan batuk biasanya dapat diraba pada titik ini. Jika jari tangan tak dapat melewati annulus inguinalis profundus karena adanya massa, maka umumnya diindikasikan adanya hernia. Hernia juga diindikasikan, bila seseorang meraba jaringan yang bergerak turun kedalam kanalis inguinalis sepanjang jari tangan pemeriksa selama batuk.

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita batuk, membungkuk, mengangkat beban berat atau mengedan. Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring . Nyeri yang disertai mual atau muntah timbul ketika terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat yang biasanya berisi ovarium.

DIAGNOSIS BANDING

a. Hidrocele pada funikulus spermatikus maupun testis. Yang membedakan: o pasien diminta mengejan bila benjolan adalah hernia maka akan membesar, sedang bial hidrocele benjolan tetap tidak berubah. Bila benjolan terdapat pada skrotum , maka dilakukan pada satu sisi , sedangkan disisi yang berlawanan diperiksa melalui diapanascopy. Bial tampak bening berarti hidrocele (diapanascopy +). o Pada hernia: canalis inguinalis teraba usus o Perkusi pada hernia akan terdengar timpani karena berisi usus o Fluktuasi positif pada hernia. b. Kriptochismus Testis tidak turun sampai ke skrotum tetapi kemungkinanya hanya sampai kanalis inguinalis c. Limfadenopati/ limfadenitis inguinal d. Varises vena saphena magna didaerah lipat paha e. Lipoma yang menyelubungi funikulus spermatikus (sering disangka hernia inguinalis medialis).

PENATALAKSANAAN

1. Konservatif Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. 2. Operatif Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. o Anak: Herniotomi, yaitu hernia yang dibuka dan isi hernia didorong kedalam rogga abdomen. Kantong proksimal dijahit kuat setinggi mungkin lalu dipotong. Kantong distal dibiarkan o Dewasa: Herniorafi dan hernioplastik • Herniorafi terdiri dari herniotomi dan hernioplastik • Hernioplastik: setela herniotomi dilakukan tindakan memperkecil annulus internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

PROGNOSIS

Perbaikan klasik memberikan angka kekambuhan sekitar 1% -3% dalam jarak waktu 10 tahun kemudian. Kekambuhan disebabkan oleh tegangan yang berlebihan pada saat perbaikan, jaringan yang kurang, hernioplasti yang tidak adekuat, dan hernia yang terabaikan. Kekambuhan yang sudah diperkirakan, lebih umum dalam pasien dengan hernia direk, khususnya hernia direk bilateral. Kekambuhan tidak langsung biasanya akibat eksisi yang tidak adekuat dari ujung proksimal kantung. Kebanyakan kekambuhan adalah langsung dan biasanya dalam regio tuberkulum pubikum, dimana tegangan garis jahitan adalah yang terbesar.insisi relaksasi selalu membantu. Perbaikan hernia inguinalis bilateral secara bersamaan tidak meningkatkan tegangan jahitan dan bukan merupakan penyebab kekambuhan seperti yang dipercaya sebelumnya. Hernia rekurren membutuhkan prostesis untuk perbaikan yang berhasil, kekambuhan setelah hernioplasti prostesisanterior paling baik dilakukan dengan pendekatan preperitoneal atau secara anterior dengan sumbat prostesis.

KOMPLIKASI

– Hernia Akreta; Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia irreponibel; ini dapat terjadi kalau hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum, organ ektraperitoneal (hernia geser) atau hernia akreta. Disini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan. – Hernia Strangulasi; isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulate yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial. – Hernia inkarserasi retrograde; (jarang terjadi) yaitu dua segmen usus terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga peritoneum seperti hurup W.

PENCEGAHAN

Hindari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut Untuk mencegah terjadinya kekambuhan, hindarkan anak dari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut, misalnya batuk dan bersin yang kuat, konstipasi (sembelit), mengejan, serta mengangkat barang berat. Usahakan anak tidak mengejan kuat ketika buang air kecil atau besar. Jelaskan pada anak mengenai risiko batuk dan mengejan. Anda pun bisa menggunakan kondisi ini sebagai alasan agar anak menghindar terlalu banyak permen (menghindari batuk), makan banyak buah agar buang air besarnya mudah.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HERNIA INGUINALIS

Pengkajian Data Subjektif: 1. Nyeri seperti tertusuk, yang akan semakin memburuk dengan anak menangis batuk, bersin, membengkokkan badan. 2. Keluhan tidak mampu untuk beraktifitas. 3. Ibu anak mengatakan ada benjolan di selangkang paha dan sakit jika dipegang. Data Objektif: 1. Perubahan jalan, berjalan dengan terpincang-pincang. 2. Nyeri pada palpasi. 3. Anak menangis kesakitan 4. Wajah anak tampak meringis 5. Adanya benjolan di lipat paha. 6. Ibu anak I tampak khawatir dengan keadaan anaknya. Analisa Data No. Data Etiologi Masalah 1. DO: – Nyeri pada palpasi – Wajah tampak meringis. – Anak menangis kesakitan DS: – Nyeri seperti tertusuk. – Ibu anak mengatakan ada benjolan di selangkang paha dan sakit jika dipegang. – Adanya benjolan pada lipatan paha dan sakit ketika disentuh – Peningkatan tekanan intra abdomen. Nyeri 2. DO: – Nyeri pada palpasi – Wajah tampak meringis. – Anak menangis kesakitan – Ibu anak I tampak khawatir dengan keadaan anaknya. DS: – Nyeri seperti tertusuk. – Ibu anak I mengatakan ada benjolan di selangkang paha dan sakit jika dipegang. Anak I akan dilakukan tindakan operasi. Kecemasan orangtua Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan pada selangkangan. Hasil yang diharapkan : a. Anak menunjukkan tingkat nyeri yang dapat diterima. b. Anak belajar dan mengimplementasikan strategi koping yang efektif c. Orangtua belajar keterampilan koping dan efekti dalam membantu anak untuk meakukan koping. Rencana tindakan : No. Intervensi Rasional 1. Mandiri • Lakukan strategi nonfarmakologi untuk membantu anak mengatasi nyeri • Gunakan strategi yang dikenal anak atau gambarkan beberapa strategi dan biarkan anak memilih salahsatunya. • Libatkan orangtua dalam pemilihan strategi. • Ajarkan anak untuk menggunakan strategi nonfarmakologi khusus sebelum terjadi nyeri atau sebelum nyeri menjadi lebih berat Kolaborasi • Bantu atau minta orangtua membantu anaknya dengan menggunakan strategi selama nyeri actual. • Karena teknik-teknik seperti relaksasi, pernapasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. • Untuk memudahkan pembelajaran anak dan menggunakan strategi. • Karena orangtua adalah orang yang paling mengetahui anaknya. • Karena pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan. • Untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan. Diagnosa Keperawatan 2. Kecemasan orang tua berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan. Hasil yang diharapkan : a. Orang tua kooperatif dalam pendampingan perawatan. Rencana tindakan No. Intervensi Rasional 1. Mandiri • Kaji tingkat kecemasan orang tua. • Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah, waktu puasa, jam operasi. • Dengarkan keluhan orang tua. • Beri kesempatan orang tua untuk bertanya. • Jelaskan pada orang tua tentang apa yang akan dilakukan dikamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. • Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi. • Untuk menentukan skala masalah yang terjadi • Agar orangtua mengerti dan tidak merasa terkejut dengan hal-hal pemeriksaan pada anak. • Memberikan kesempatan mengemukakan perasaannya. • Kesempatan orangtua untuk mengetahui keadaan anaknya. • Sebagai hak untuk mengetahui jalannya pembedahan yang akan dilakukan. • Sebagai evaluasi hasil dari tindakan pembedahan.

PENYULUHAN PASIEN

– KELUARGA DAN PERENCANAAN PEMULANGAN

Berikan informasi verbal dan tertulis kepada keluarga pasien tentang hal berikut : 1. Perawatan insisi dan teknik penggantian balutan, jika tepat. Beritahu pasien tanda infeksi pada insisi, yang memerlukan intervensi medis : demam, kemerahan menetap, bengkak, hangat lokal, nyeri tekan, drainage purulen, bau busuk. 2. Gejala kekambuhan hernia dan komplikasi pasca bedah 3. Pembatasan aktivitas pascabedah sesuai petunjuk : biasanya mengangkat benda yang berat dan mengejan dikontraindikasikan selama kira-kira 6 minggu. Antisipasi kembali aktifitas bermain dalam 2 minggu. 4. Pentingnya mekanika tubuh yang tepat untuk mencegah kekambuhan, khusunya jika bila dan bergerak. 5. Mencegah konstipasi dan mengejan saat defekasi (mis., dengan makan diet tinggi residu (buah-buahan, sayuran, banyak cairan, roti gandum), hindari sereal sangat halus dan pasta (mis., nasi putih, roti putih, mie dan es krim). 6. Pengunaan laksatif jika diperlukan. 7. Obat-obatan meliputi nama obat, tujuan, dosis, jadwal, interaksi obat/obat dan makanan/obat, dan potensial efek samping.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston. Buku ajar bedah (Essentials of surgry. Bagian 2, cetakan I : Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC. 1994. 2. http://www.medicastore. Com 3. Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah.edisi revisi. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC, 1997. 4. http://www.pubmed. Com 5. Schwartz. et al. intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.Ed. 6. jakarta: penerbit buku kedokteran EGC, 2000. 6. Wong, Donna L. Pedoman Klinis Keperawatan ediatrik Ed.4. Jakarta: EGC. 2003

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s