SISTITIS

KASUS PEMICU

Seorang wanita berumur 30 tahun dating keluhan nyeri seperti terbakar saat bak, sering bak sedikit-sedikit, inkontinensia serta urgency dan agak demam.

Identifikasi Masalah

Pasien datang dengan keluhan :

  1. nyeri seperti rasa terbakar saat berkemih
  2. sering buang air kecil tapi sedikit-sedikit
  3. tidak dapat mengatur proses berkemih
  4. tergesa-gesa dalam berkemih
  5. agak demam

Berdasarkan data diatas, kelompok kami menyimpulkan diagnosa medis untuk pasien ini adalah

Infeksi Saluran Kemih (Sistitis).

PEMBAHASAN

PENGERTIAN

Beberapa pengertian mengenai infeksi saluran kemih diantaranya :

  1. Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001)
  2. Infeksi saluran kemih adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktis urinarius, dengan atau tanpa disertai tanda dan gejala (Brunner & Suddarth, 2002).
  3. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998).
  4. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi sepanjang saluran kemih, terutama masuk ginjal itu sendiri akibat proliferasi suatu organisme (Corwin, E.J,2001: 480).
  5. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu tanda umum yang ditunjukkan pada manifestasi bakteri pada saluran kemih (Engram, B,1998: 121)
  6. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus/ mikroorganisme lain (Waspadji, S,1998: 264)

Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi :

  1. Bagian atas (pielonefritis) dan
  2. Bagian bawah (sisititis, uretritis, prostatitis) menurut saluran yang terkena.

ISK bagian atas terjadi pada uretra atau ginjal, sedangkan ISK bagian bawah terjadi pada uretra dan kandung kemih. Infeksi dapat berasal dari mana saja dari saluran perkemihan dan menyebar ke area lain.

ETIOLOGI

Bermacam-macam mikroorgonisme dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Penyebab terbanyak adalah bakteri Gram Negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke system saluran kemih. Dari bakteri Gram Negatif ternyata E. coly menduduki tempat teratas yang kemudian diikuti oleh Proteus, Klebsiela, Enterobacter, Pseudomonas. Selain bakteri terdapat etiologi lain seperti :

  • Jamur dan virus
  • Infeksi ginjal
  • Prostat hipertropi (urine sisa)

PATOFISIOLOGI

Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui :

a.Penyebaran endogen yaitu kontak langsung daro tempat terdekat.

b.Hematogen.

c.Limfogen.

d.Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.

Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.

Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal.

Klasifikasi

Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain:

1. Kandung kemih (sistitis)

2. Uretra (uretritis)

3. Ginjal (pielonefritis)

Perbedaan gambaran klinis antara Uretritis, Sistitis, dan Pielonefritis :

Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :

  • Mukosa memerah dan edema
  • Terdapat cairan eksudat yang purulent
  • Ada ulserasi pada urethra
  • Adanya rasa gatal yang menggelitik
  • Adanya nanah awal miksi
  • Nyeri pada saat miksi
  • Kesulitan untuk memulai miksi
  • Nyeri pada abdomen bagian bawah.

Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :

  • Disuria (nyeri waktu berkemih)
  • Peningkatan frekuensi berkemih
  • Perasaan ingin berkemih
  • Adanya sel-sel darah putih dalam urin
  • Nyeri punggung bawah atau suprapubic
  • Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.

Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala :

  • Demam
  • Menggigil
  • Nyeri pinggang
  • Disuria

Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal.

Berdasarkan analisa kasus di atas, pasien menderita

SISTITIS

PENGERTIAN

  • Sistitis adalah inflamasi kendung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. (Brunner & Suddarth, 2002).
  • Sistitis Pengertian Peradangan pada vesika urinaria, peradangan ini sering ditemui. (www.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan.com)
  • Inflamasi (peradangan) akut pada mukosa buli-buli (kandung kemih) yang sering disebabkan oleh infeksi bakteri.( http://kabarindonesia.com).

ETIOLOGI

Beberapa penyebab sistitis diantaranya adalah :

  1. Aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih ( Refluks Uretrovesikal)
  2. Adanya kontaminasi fekal pada meatus uretra
  3. Pemakaian kateter atau sistoskop
  4. Mikroorganisme  : E.coli, Enterococci, Proteus, Staphylococcus aureus.
  5. Bahan kimia : Detergent yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk, deodorant yang disemprotkan pada vulva, obat-obatan (misalnya: siklofosfamid) yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli.
  6. Infeksi ginjal
  7. Prostat hipertrofi karena adanya urine sisa
  8. Infeksi usus
  9. Infeksi kronis dari traktus bagian atas
  10. Adanya sisa urine
  11. Stenosis dari traktus bagian bawah

MANIFESTASI KLINIS

Pasien mengalami urgensi, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat berkemih, nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan supra pubis. Piuria (adanya sel darah putih dalam urine), hematuria (adanya sel darah merah pada pemeriksaan urine). Pasien mengalami demam, mual, muntah, badan lemah, kondisi umum menurun. Jika ada demam dan nyeri pinggang, perlu dipikirkan adanya penjalaran infeksi ke saluran kemih bagian atas. Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih.
Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.

Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain). Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia urin sebagai akibatnya.

Inkontenensia urine adalah eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi di luar keinginan.

Inkontinensia Urine dapat dibagi menjadi empat jenis :

  1. Urge incontinence

Terjadi bila pasien merasakan dorongan atau keinginan untuk berkemih tetapi tidak mammpu menahannya cukup lama sebelum mencapai toilet. Keadaan ini dapat terjadi pada pasien disfungsi neurology yang mengganggu penghambatan kontraksi kandung kemih.

  1. Overflow incontinence

Ditandai oleh eliminasi urine yang sering dan kadang-kadang terjadi hamper terus menerus dari kandung kemih. Kandung kemih tidak dapat mengosongkan isinya secara normal dan mengalami distensi yang berlebihan. Dapat disebabkan oleh kelainan neurology ( lesi medulla spinalis) atau oleh factor-faktor yang menyumbat saluran urine. Meskipun eliminasi terjadi dengan sering, kandung kemih tidak pernah kosong.

  1. Incontinensia fungsional

Merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tapi ada factor lain, seperti gangguan kognitif berat yang membuat pasien sulit untuk mengidentifikasi perlunya berkemih (pasien demensia alzeimer) atau gangguan fisik yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin menjangkau toilet untuk berkemih

  1. Bentuk-bentuk inkontinensia urine campuran

Mencakup cirri-ciri inkontinensia seperti yang baru disebutkan, dapat pula terjadi. Selain itu, inkontinensia urine dapat terjadi akibat interaksi banyak factor.

EVALUASI DIAGNOSTIK

  • Jika sistitis sering kambuh, perlu dipikirkan adanya kelainan pada kandung kemih (misalnya: keganasan, batu di saluran kemih/urolithiasis) sehingga diperlukan pemeriksaan pencitraan (PIV, USG) atau sistoskopi.
  • Urinalisis

a.   Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK.  Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih

b.  Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

  • Bakteriologis

a.   Mikroskopis

b.   Biakan bakteri

c.   Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

d.  Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.

  • Metode tes
  1. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
  2. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
  • Tes- tes tambahan:

Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

PENATALAKSANAAN

Penanganan sistitis yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina

Penatalaksanaan medis sebagai berikut :

  • Penggunaan medikasi yang umum mencakup : sulfisoxazole (gantrisin), trimethaoprim/sulfamethaoxazole ( TMP/SMZ, Bactrim, septra) dan nitrofurantoin.
  • Kadang-kadang medikasi seperti ampisilin atau amoksisilin juga digunakan.
  • Terkadang diperlukan antikolinergik (misalnya: propanthelin bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida sebagai antiseptik pada saluran kemih.
  • Banyak minum untuk melarutkan bakteri
  • Kumbah kandung kemih dengan larutan antiseptik ringan

ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI SALURAN KEMIH

Pengkajian

Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :

Data biologis meliputi :

  1. Identitas klien
  2. Identitas penanggung

Riwayat kesehatan :

1. Riwayat infeksi saluran kemih

2. Riwayat pernah menderita batu ginjal

3. Riwayat penyakit DM, jantung.

Pengkajian fisik :

1. Palpasi kandung kemih

2. Inspeksi daerah meatus

a). Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine

b). Pengkajian pada costovertebralis

Riwayat psikososial

  • Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan
  • Persepsi terhadap kondisi penyakit
  • Mekanisme koping dan system pendukung

Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga

1). Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit

2). Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis

Diagnosa Keperawatan

a.Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih.

b.Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan ISK.

c.Nyeri yang berhubungan dengan ISK.

d.Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah.

Perencanaan

1. Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih

Tujuan :

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien memperlihatkan tidak adanya tanda-tanda infeksi.

Kriteria Hasil :

1). Tanda vital dalam batas normal

2). Nilai kultur urine negatif

3). Urine berwarna bening dan tidak bau

Intervensi :

INTERVENSI RASIONAL
1). Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan lapor jika suhu diatas 38,50 C

2). Catat karakteristik urine

3). Anjurkan pasien untuk minum 2 – 3 liter jika tidak ada kontra indikasi

4). Monitor pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi.

5). Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih

6). Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering.

7). Jika dipasang kateter berikan perawatan kateter 2 kali per hari (merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur dan setelah buang air besar).

Kolaborasi

Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine: Berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urine.

Tanda vital menandakan adanya perubahan di dalam tubuh

Untuk mengetahui/mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

Untuk mencegah stasis urine

Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita.

Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih

Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra

Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan.

Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman.

2.  Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan frekuensi dan atau nokturia) yang berhubungan dengan ISK.

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat.

Kriteria :

1). Klien dapat berkemih setiap 3 jam

2). Klien tidak kesulitan pada saat berkemih

3). Klien dapat bak dengan berkemih

Intervensi :

INTERVENSI RASIONAL
1). Ukur dan catat urine setiap kali berkemih

2).  Anjurkan untuk berkemih setiap 2 – 3 jam

3).  Palpasi kandung kemih tiap 4 jam

4). Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal

5). Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman

6). Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urine.

7). Dorong meningkatkan pemasukan cairan

8).  Kaji keluhan kandung kemih penuh

9). Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam

Kolaborasi

Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin

Berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urin.

Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/out put

Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria.

Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih.

Untuk memudahkan klien di dalam berkemih.

Supaya klien tidak sukar untuk berkemih

Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi

Peningkatan hidrasi membilas bakteri

Retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal)

Untuk mencegah statis urine

Pengawasan terhadap disfungsi ginjal

Asam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapat berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunner & Suddath.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
  2. Tessy, Agus dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
  3. http://widayanto.com/?p=15
  4. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/28/askep-infeksi-saluran-kemih/
  5. http://askep-ebook.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-infeksi-saluran.html

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s